Close Menu
  • Beranda
  • Berita
  • Agenda
  • Opini
  • Riset
  • Prestasi
  • Beasiswa
  • Profil
  • Insiprasi
  • iniKids
What's Hot

Paradoks Indonesia: Kita Benar-benar Tangguh atau Hanya Terbiasa Bertahan?

14 Juni 2026

LLDikti Wilayah I Perkuat Kompetensi Humas 100 PTS lewat Workshop Komunikasi Publik Digital

12 Juni 2026

Rektor UAD Minta Pemerintah Evaluasi Jalur Mandiri PTN

11 Juni 2026
Facebook X (Twitter) Instagram
Beranda | Tentang Kami |  Redaksi |  Pedoman Media Siber |  Kebijakan Privasi  | Iklan dan Kerja Sama |  Layanan | Kontak
Facebook X (Twitter) Instagram
iniKampusiniKampus
  • Beranda
  • Berita
  • Agenda
  • Opini
  • Riset
  • Prestasi
  • Beasiswa
  • Profil
  • Insiprasi
  • iniKids
Donasi
iniKampusiniKampus
Beranda » Paradoks Indonesia: Kita Benar-benar Tangguh atau Hanya Terbiasa Bertahan? » Halaman 3
Opini

Paradoks Indonesia: Kita Benar-benar Tangguh atau Hanya Terbiasa Bertahan?

adminBy admin14 Juni 2026Updated:14 Juni 2026Tidak ada komentar9 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Email LinkedIn Pinterest Copy Link
Share
Facebook Twitter WhatsApp Email Copy Link LinkedIn Pinterest

Konsepsi tentang kebahagiaan dan ketangguhan perlu dibaca ulang. Dalam kajian psikologi modern, kesejahteraan tidak pernah dimaknai sekadar sebagai kemampuan merasa baik atau tetap optimis di tengah kesulitan.

Martin Seligman, melalui teori flourishing, menunjukkan bahwa kehidupan yang baik menuntut lebih dari sekadar emosi positif, ia menuntut makna, relasi yang sehat, keterlibatan, dan kemampuan berkembang sebagai manusia.

Oleh karena itu, tingginya flourishing masyarakat Indonesia seharusnya tidak dibaca sebagai bukti bahwa berbagai persoalan telah selesai.

Flourishing hanya menunjukkan bahwa masyarakat masih memiliki sumber daya psikologis yang kuat untuk menjalani hidup.

Justru di sinilah paradoksnya. Kemampuan menemukan makna yang semula menjadi kekuatan dapat berubah menjadi jebakan ketika makna tersebut tidak lagi menghasilkan perubahan.

Paul Wong, pengembang Second Wave Positive Psychology, mengingatkan bahwa makna dan ketangguhan hanya memiliki nilai psikologis yang sehat apabila keduanya mendorong pertumbuhan dan transformasi.

Jika makna hanya membantu manusia menerima penderitaan tanpa mempertanyakan sumber penderitaan itu sendiri, maka yang lahir bukan transformasi melainkan adaptasi. Masyarakat memang menjadi lebih kuat tetapi persoalan yang sama tetap tinggal di tempatnya.

Gejala tersebut tampak dalam ruang publik kita hari ini. Berbagai persoalan yang dahulu memicu kemarahan kini lebih sering berubah menjadi hiburan. Kritik berubah menjadi meme. Kekecewaan berubah menjadi lagu. Politik berubah menjadi tontonan.

Ketika nilai tukar rupiah menyentuh kisaran Rp18.000 per dolar Amerika Serikat, kegelisahan publik hanya bertahan sesaat sebelum tenggelam dalam arus isu berikutnya.

Ketika berbagai kontroversi kebijakan publik atau kasus yang melibatkan penyelenggara program strategis nasional mencuat ke ruang publik, perhatian masyarakat sering kali lebih tersedot kepada figur, potongan video, dan sensasi yang mengiringinya daripada evaluasi kritis terhadap akar persoalannya.

Sesuatu yang semula mengganggu, perlahan kehilangan daya ganggunya. Hannah Arendt, dalam refleksinya mengenai banalitas keburukan, menunjukkan bahwa ancaman terbesar bagi sebuah masyarakat bukan ketika keburukan muncul, melainkan ketika keburukan berhenti dianggap luar biasa.

Di dalam titik itu, persoalannya bukan lagi apakah masyarakat mengetahui adanya masalah melainkan apakah mereka masih memiliki kemampuan moral untuk merasa terganggu oleh masalah tersebut.

Kondisi ini semakin diperkuat oleh budaya digital yang membuat perhatian bergerak lebih cepat daripada refleksi.

Filsuf berdarah Korea-Jerman, Byung-Chul Han menyebut masyarakat kontemporer sebagai masyarakat yang kehilangan kemampuan untuk berhenti, mengambil jarak, dan merenungkan sesuatu secara mendalam.

1 2 3 4
Hikmatun Balighoh Nur Fitriyati. Indonesia Emas paradoks Indonesia psikolog
Share. Facebook Twitter WhatsApp Pinterest LinkedIn Email Threads Copy Link

Konten Terkait

Haji dan Spirit Literasi

20 Mei 2026

Keren, Undip Peringkat 8 Nasional Hasil ISR 2026

24 November 2025

Hendi Dorong Mahasiswa Unimus Jadi Agen Indonesia Emas 2045

16 November 2025

Kenzie Lintang Trenggono: Dari Dolanan Menuju Kompetisi Wayang Nasional

7 Oktober 2025
Add A Comment
Leave A Reply Cancel Reply

Anda harus masuk untuk berkomentar.

Konten Terbaru

Paradoks Indonesia: Kita Benar-benar Tangguh atau Hanya Terbiasa Bertahan?

14 Juni 2026

LLDikti Wilayah I Perkuat Kompetensi Humas 100 PTS lewat Workshop Komunikasi Publik Digital

12 Juni 2026

Rektor UAD Minta Pemerintah Evaluasi Jalur Mandiri PTN

11 Juni 2026

Pahami Beasiswa Garuda Sarjana lewat Tanya Jawab Ini

9 Juni 2026

Inilah Empat SMA Unggul Garuda Transformasi 2026 di Jateng

30 Mei 2026

Langganan Informasi Terbaru

Dapatkan berita pendidikan terbaru dari Inikampus seputar pendidikan, beasiswa, dll

IniKampus adalah portal berita yang menyajikan informasi terkini seputar dunia pendidikan tinggi di Indonesia dan mancanegara. Kami hadir untuk menjadi referensi terpercaya bagi mahasiswa, dosen, akademisi, serta masyarakat umum yang peduli terhadap perkembangan sektor pendidikan.

Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest YouTube

Paradoks Indonesia: Kita Benar-benar Tangguh atau Hanya Terbiasa Bertahan?

14 Juni 2026

LLDikti Wilayah I Perkuat Kompetensi Humas 100 PTS lewat Workshop Komunikasi Publik Digital

12 Juni 2026

Rektor UAD Minta Pemerintah Evaluasi Jalur Mandiri PTN

11 Juni 2026

Langganan Informasi Terbaru

Dapatkan berita pendidikan terbaru dari Inikampus seputar pendidikan, beasiswa, dll

© 2026 IniKampus. Designed by Inikampus.
  • Beranda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Panduan Kolumnis
  • Kebijakan Privasi
  • Iklan
  • Layanan
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.