Close Menu
  • Beranda
  • Berita
  • Agenda
  • Opini
  • Riset
  • Prestasi
  • Beasiswa
  • Profil
  • Insiprasi
  • iniKids
What's Hot

Universitas Ngudi Waluyo Kukuhkah Sudijono Sastroatmodjo dan Yusriadi sebagai Profesor Emeritus Bidang Hukum

6 November 2026

Ketika Tubuh Menjadi Teks Kebudayaan

5 November 2026

Tiga Dalang Muda Jateng Raih Prestasi di Festival Dalang Nasional

4 November 2026
Facebook X (Twitter) Instagram
Beranda | Tentang Kami |  Redaksi |  Pedoman Media Siber |  Kebijakan Privasi  | Iklan dan Kerja Sama |  Layanan | Kontak
Facebook X (Twitter) Instagram
iniKampusiniKampus
  • Beranda
  • Berita
  • Agenda
  • Opini
  • Riset
  • Prestasi
  • Beasiswa
  • Profil
  • Insiprasi
  • iniKids
Donasi
iniKampusiniKampus
Beranda » Paradoks Indonesia: Kita Benar-benar Tangguh atau Hanya Terbiasa Bertahan? » Halaman 4
Opini

Paradoks Indonesia: Kita Benar-benar Tangguh atau Hanya Terbiasa Bertahan?

adminBy admin14 Juni 2026Updated:14 Juni 2026Tidak ada komentar9 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Email LinkedIn Pinterest Copy Link
Share
Facebook Twitter WhatsApp Email Copy Link LinkedIn Pinterest

Akibatnya, ruang publik dipenuhi respons tetapi miskin refleksi. Dipenuhi opini tetapi miskin pemikiran. Kita mengetahui semakin banyak hal tetapi semakin sulit memberi perhatian yang cukup lama kepada satu persoalan untuk benar-benar memahaminya.

Kritik tidak benar-benar hilang tetapi ia kehilangan durasinya. Kemarahan tidak benar-benar lenyap tetapi ia kehilangan kedalamannya. Apa yang kemarin dianggap persoalan serius, hari ini dapat berubah menjadi konten, dan besok akan digantikan oleh sensasi persoalan lainnya.

Energi Transformasi

Persoalan Indonesia hari ini mungkin bukan kurangnya kebahagiaan, kurangnya makna hidup, atau kurangnya ketangguhan sosial. Persoalan itu adalah bahwa seluruh kekuatan tersebut belum cukup berkembang menjadi energi transformasi.

Kita memiliki kemampuan luar biasa untuk bertahan tetapi belum tentu memiliki keberanian yang sama besar untuk mengubah keadaan yang membuat kita harus terus bertahan. Kita memiliki kemampuan menemukan makna dalam berbagai keterbatasan tetapi sering kehilangan dorongan untuk memastikan bahwa keterbatasan tersebut tidak diwariskan kepada generasi berikutnya. Di situlah paradoks Indonesia yang sesungguhnya, bangsa yang sangat resilien tetapi belum sepenuhnya transformatif.

Mungkin inilah pertanyaan yang paling penting untuk kita ajukan menjelang Indonesia Emas 2045. Emas seperti apa yang sedang kita bayangkan?

Apakah emas berarti masyarakat yang semakin mampu bertahan menghadapi berbagai kesulitan? Apakah emas berarti rakyat yang tetap tersenyum ketika ruang publik dipenuhi tontonan ketika kualitas percakapan publik terus menurun, dan ketika berbagai persoalan yang seharusnya mengusik nurani perlahan berubah menjadi hiburan?

Kita bangga ketika disebut bahagia. Kita bangga ketika disebut tangguh. Kita bangga ketika disebut mampu bertahan dalam berbagai krisis.

Namun sejarah tidak pernah berubah karena manusia mampu bertahan. Sejarah berubah karena manusia menolak menganggap keadaan yang salah sebagai sesuatu yang wajar.

Ketika kritik lebih mudah berubah menjadi meme daripada kesadaran, ketika keburukan lebih cepat menjadi tontonan daripada kegelisahan, dan ketika kemampuan beradaptasi lebih sering dirayakan daripada keberanian untuk berubah maka yang sedang dipertaruhkan bukan hanya kualitas demokrasi atau arah pembangunan melainkan kualitas kesadaran kita sebagai bangsa.

Indonesia emas 2045 seharusnya tidak diukur dari angka pertumbuhan, besarnya investasi, atau megahnya pembangunan fisik.

Indonesia emas seharusnya berarti hadirnya warga yang mampu berpikir kritis di tengah banjir informasi, berani mempertanyakan hal yang keliru meskipun sedang populer, serta tetap memiliki kegelisahan moral ketika berhadapan dengan sesuatu yang tidak benar.

Bangsa yang kehilangan kegelisahan semacam itu mungkin tetap tampak bahagia, tetap tampak tangguh, bahkan tetap tampak optimistis.

Namun tanpa daya kritis dan keberanian untuk berubah, emas yang kita bangun bisa jadi tidak lebih dari lapisan tipis yang menutupi retakan yang semakin dalam.

Paradoks Indonesia sesungguhnya bukan terletak kepada kemiskinan di tengah kekayaan atau kesulitan di tengah potensi. Paradoks yang lebih mendalam adalah ketika kemampuan luar biasa untuk bertahan, perlahan menggantikan keberanian untuk berubah.

Jika itu terjadi, pertanyaan terbesar menuju 2045 bukanlah apakah Indonesia akan menjadi “Bangsa Emas”, melainkan apakah kita masih mampu membedakan antara bangsa yang benar-benar maju atau bangsa yang sekadar terbiasa hidup dengan persoalan yang tak pernah tuntas diselesaikan.

 

—Hikmatun Balighoh Nur Fitriyati, Dosen UIN Walisongo Semarang; Mahasiswa S3 Fakultas Ilmu Pendidikan dan Psikologi Unnes

 

1 2 3 4
Hikmatun Balighoh Nur Fitriyati. Indonesia Emas paradoks Indonesia psikolog
Share. Facebook Twitter WhatsApp Pinterest LinkedIn Email Threads Copy Link

Konten Terkait

Ketika Tubuh Menjadi Teks Kebudayaan

5 November 2026

Dari Kresna ke BIPA

9 Oktober 2026

Bahasa Indonesia: Dari Ruang Kuliah ke Panggung Dunia

6 Oktober 2026

Saat AI Makin Pandai Menulis, Apa Perlunya Mata Kuliah Bahasa Indonesia?

1 Oktober 2026
Add A Comment
Leave A Reply Cancel Reply

Anda harus masuk untuk berkomentar.

Konten Terbaru

Universitas Ngudi Waluyo Kukuhkah Sudijono Sastroatmodjo dan Yusriadi sebagai Profesor Emeritus Bidang Hukum

6 November 2026

Ketika Tubuh Menjadi Teks Kebudayaan

5 November 2026

Tiga Dalang Muda Jateng Raih Prestasi di Festival Dalang Nasional

4 November 2026

Dalang Anak Asal Batang Anang Purbacarita Suguhkan Wayang Golek Cepak di Festival Nasional

4 November 2026

Bantu UMKM Lebih Dikenal, Mahasiswa KKN Unnes Pasang 14 Banner di Selomirah

31 Oktober 2026

Langganan Informasi Terbaru

Dapatkan berita pendidikan terbaru dari Inikampus seputar pendidikan, beasiswa, dll

IniKampus adalah portal berita yang menyajikan informasi terkini seputar dunia pendidikan tinggi di Indonesia dan mancanegara. Kami hadir untuk menjadi referensi terpercaya bagi mahasiswa, dosen, akademisi, serta masyarakat umum yang peduli terhadap perkembangan sektor pendidikan.

Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest YouTube

Universitas Ngudi Waluyo Kukuhkah Sudijono Sastroatmodjo dan Yusriadi sebagai Profesor Emeritus Bidang Hukum

6 November 2026

Ketika Tubuh Menjadi Teks Kebudayaan

5 November 2026

Tiga Dalang Muda Jateng Raih Prestasi di Festival Dalang Nasional

4 November 2026

Langganan Informasi Terbaru

Dapatkan berita pendidikan terbaru dari Inikampus seputar pendidikan, beasiswa, dll

© 2026 IniKampus. Designed by Inikampus.
  • Beranda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Panduan Kolumnis
  • Kebijakan Privasi
  • Iklan
  • Layanan
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.