Close Menu
  • Beranda
  • Berita
  • Agenda
  • Opini
  • Riset
  • Prestasi
  • Beasiswa
  • Profil
  • Insiprasi
  • iniKids
What's Hot

Paradoks Indonesia: Kita Benar-benar Tangguh atau Hanya Terbiasa Bertahan?

14 Juni 2026

LLDikti Wilayah I Perkuat Kompetensi Humas 100 PTS lewat Workshop Komunikasi Publik Digital

12 Juni 2026

Rektor UAD Minta Pemerintah Evaluasi Jalur Mandiri PTN

11 Juni 2026
Facebook X (Twitter) Instagram
Beranda | Tentang Kami |  Redaksi |  Pedoman Media Siber |  Kebijakan Privasi  | Iklan dan Kerja Sama |  Layanan | Kontak
Facebook X (Twitter) Instagram
iniKampusiniKampus
  • Beranda
  • Berita
  • Agenda
  • Opini
  • Riset
  • Prestasi
  • Beasiswa
  • Profil
  • Insiprasi
  • iniKids
Donasi
iniKampusiniKampus
Beranda » Paradoks Indonesia: Kita Benar-benar Tangguh atau Hanya Terbiasa Bertahan? » Halaman 2
Opini

Paradoks Indonesia: Kita Benar-benar Tangguh atau Hanya Terbiasa Bertahan?

adminBy admin14 Juni 2026Updated:14 Juni 2026Tidak ada komentar9 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Email LinkedIn Pinterest Copy Link
Share
Facebook Twitter WhatsApp Email Copy Link LinkedIn Pinterest

Masalah tidak hilang, hanya kehilangan daya kejutnya. Krisis tidak selesai, hanya berubah menjadi rutinitas. Dan ketika sebuah bangsa terlalu berhasil beradaptasi terhadap keadaan yang tidak ideal, ancaman terbesarnya bukanlah keruntuhan.

Ancaman terbesarnya adalah ketika masyarakat berhenti membedakan antara keadaan yang harus dipahami, keadaan yang harus diterima, dan keadaan yang sesungguhnya harus diubah.

Pembacaan yang Keliru

Di titik ini, data tentang kebahagiaan Indonesia perlu dibaca dengan lebih hati-hati. Pada 2025, Global Flourishing Study yang melibatkan Harvard Human Flourishing Program, Baylor University, Gallup, dan Center for Open Science menempatkan Indonesia sebagai negara dengan skor flourishing tertinggi di antara negara-negara yang diteliti.

Temuan ini segera menjadi bahan kebanggaan. Prabowo Subianto bahkan pernah menyinggung survei Harvard-Gallup itu dan menyebut rakyat Indonesia sebagai yang paling bahagia di dunia.

Secara politik, kalimat semacam itu tentu menggoda, Prabowo memberi rasa bangga, rasa menang, dan rasa bahwa bangsa ini sedang berada di jalur yang benar.

Namun justru di situlah masalahnya. Flourishing tidak sama dengan kebahagiaan yang sederhana. Ia mencakup relasi sosial, makna hidup, karakter, kesehatan, rasa aman, dan kepuasan hidup.

Lebih penting lagi, Global Flourishing Study bukan World Happiness Report. Dalam World Happiness Report 2025, Indonesia justru berada di peringkat ke-83 dari 147 negara dalam evaluasi hidup.

Artinya, ketika satu data dibaca sebagai bukti bahwa Indonesia adalah bangsa paling bahagia, kita perlu bertanya, apakah data itu sedang dipahami secara utuh atau sedang dipilih hanya di bagian yang paling menyenangkan bagi narasi kekuasaan?

Di sinilah kritik menjadi penting. Sebuah bangsa tentu boleh bangga ketika warganya memiliki makna hidup, relasi sosial, spiritualitas, dan solidaritas yang kuat.

Akan tetapi kebanggaan itu menjadi berbahaya ketika dipakai untuk menutup pertanyaan yang lebih mendasar, mengapa masyarakat yang dianggap paling flourishing masih harus terus mengandalkan ketangguhan, gotong-royong dan daya tahan sosial untuk menghadapi persoalan yang berulang?

Jangan-jangan tingginya flourishing Indonesia bukan hanya tanda bahwa sistem sosial kita sudah sehat melainkan juga tanda bahwa masyarakat telah mengembangkan mekanisme psikologis dan kultural yang sangat kuat untuk tetap merasa hidup bermakna di tengah berbagai keterbatasan.

Tak ayal, ketika seorang pemimpin merasa terharu karena rakyatnya disebut bahagia, seorang warga justru berhak bertanya, bahagia dalam kondisi seperti apa? Bahagia karena negara berhasil mengurangi beban hidup atau bahagia karena masyarakat terlalu mahir menemukan makna di tengah beban yang belum berkurang?

Pertanyaan ini tidak dimaksudkan untuk merendahkan kebahagiaan rakyat. Justru sebaliknya, menghormati kebahagiaan itu dengan cara yang lebih jujur. Sebab, kebahagiaan rakyat tidak boleh dijadikan dekorasi politik untuk meredam kritik terhadap kenyataan.

1 2 3 4
Hikmatun Balighoh Nur Fitriyati. Indonesia Emas paradoks Indonesia psikolog
Share. Facebook Twitter WhatsApp Pinterest LinkedIn Email Threads Copy Link

Konten Terkait

Haji dan Spirit Literasi

20 Mei 2026

Keren, Undip Peringkat 8 Nasional Hasil ISR 2026

24 November 2025

Hendi Dorong Mahasiswa Unimus Jadi Agen Indonesia Emas 2045

16 November 2025

Kenzie Lintang Trenggono: Dari Dolanan Menuju Kompetisi Wayang Nasional

7 Oktober 2025
Add A Comment
Leave A Reply Cancel Reply

Anda harus masuk untuk berkomentar.

Konten Terbaru

Paradoks Indonesia: Kita Benar-benar Tangguh atau Hanya Terbiasa Bertahan?

14 Juni 2026

LLDikti Wilayah I Perkuat Kompetensi Humas 100 PTS lewat Workshop Komunikasi Publik Digital

12 Juni 2026

Rektor UAD Minta Pemerintah Evaluasi Jalur Mandiri PTN

11 Juni 2026

Pahami Beasiswa Garuda Sarjana lewat Tanya Jawab Ini

9 Juni 2026

Inilah Empat SMA Unggul Garuda Transformasi 2026 di Jateng

30 Mei 2026

Langganan Informasi Terbaru

Dapatkan berita pendidikan terbaru dari Inikampus seputar pendidikan, beasiswa, dll

IniKampus adalah portal berita yang menyajikan informasi terkini seputar dunia pendidikan tinggi di Indonesia dan mancanegara. Kami hadir untuk menjadi referensi terpercaya bagi mahasiswa, dosen, akademisi, serta masyarakat umum yang peduli terhadap perkembangan sektor pendidikan.

Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest YouTube

Paradoks Indonesia: Kita Benar-benar Tangguh atau Hanya Terbiasa Bertahan?

14 Juni 2026

LLDikti Wilayah I Perkuat Kompetensi Humas 100 PTS lewat Workshop Komunikasi Publik Digital

12 Juni 2026

Rektor UAD Minta Pemerintah Evaluasi Jalur Mandiri PTN

11 Juni 2026

Langganan Informasi Terbaru

Dapatkan berita pendidikan terbaru dari Inikampus seputar pendidikan, beasiswa, dll

© 2026 IniKampus. Designed by Inikampus.
  • Beranda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Panduan Kolumnis
  • Kebijakan Privasi
  • Iklan
  • Layanan
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.