Masalah tidak hilang, hanya kehilangan daya kejutnya. Krisis tidak selesai, hanya berubah menjadi rutinitas. Dan ketika sebuah bangsa terlalu berhasil beradaptasi terhadap keadaan yang tidak ideal, ancaman terbesarnya bukanlah keruntuhan.
Ancaman terbesarnya adalah ketika masyarakat berhenti membedakan antara keadaan yang harus dipahami, keadaan yang harus diterima, dan keadaan yang sesungguhnya harus diubah.
Pembacaan yang Keliru
Di titik ini, data tentang kebahagiaan Indonesia perlu dibaca dengan lebih hati-hati. Pada 2025, Global Flourishing Study yang melibatkan Harvard Human Flourishing Program, Baylor University, Gallup, dan Center for Open Science menempatkan Indonesia sebagai negara dengan skor flourishing tertinggi di antara negara-negara yang diteliti.
Temuan ini segera menjadi bahan kebanggaan. Prabowo Subianto bahkan pernah menyinggung survei Harvard-Gallup itu dan menyebut rakyat Indonesia sebagai yang paling bahagia di dunia.
Secara politik, kalimat semacam itu tentu menggoda, Prabowo memberi rasa bangga, rasa menang, dan rasa bahwa bangsa ini sedang berada di jalur yang benar.
Namun justru di situlah masalahnya. Flourishing tidak sama dengan kebahagiaan yang sederhana. Ia mencakup relasi sosial, makna hidup, karakter, kesehatan, rasa aman, dan kepuasan hidup.
Lebih penting lagi, Global Flourishing Study bukan World Happiness Report. Dalam World Happiness Report 2025, Indonesia justru berada di peringkat ke-83 dari 147 negara dalam evaluasi hidup.
Artinya, ketika satu data dibaca sebagai bukti bahwa Indonesia adalah bangsa paling bahagia, kita perlu bertanya, apakah data itu sedang dipahami secara utuh atau sedang dipilih hanya di bagian yang paling menyenangkan bagi narasi kekuasaan?
Di sinilah kritik menjadi penting. Sebuah bangsa tentu boleh bangga ketika warganya memiliki makna hidup, relasi sosial, spiritualitas, dan solidaritas yang kuat.
Akan tetapi kebanggaan itu menjadi berbahaya ketika dipakai untuk menutup pertanyaan yang lebih mendasar, mengapa masyarakat yang dianggap paling flourishing masih harus terus mengandalkan ketangguhan, gotong-royong dan daya tahan sosial untuk menghadapi persoalan yang berulang?
Jangan-jangan tingginya flourishing Indonesia bukan hanya tanda bahwa sistem sosial kita sudah sehat melainkan juga tanda bahwa masyarakat telah mengembangkan mekanisme psikologis dan kultural yang sangat kuat untuk tetap merasa hidup bermakna di tengah berbagai keterbatasan.
Tak ayal, ketika seorang pemimpin merasa terharu karena rakyatnya disebut bahagia, seorang warga justru berhak bertanya, bahagia dalam kondisi seperti apa? Bahagia karena negara berhasil mengurangi beban hidup atau bahagia karena masyarakat terlalu mahir menemukan makna di tengah beban yang belum berkurang?
Pertanyaan ini tidak dimaksudkan untuk merendahkan kebahagiaan rakyat. Justru sebaliknya, menghormati kebahagiaan itu dengan cara yang lebih jujur. Sebab, kebahagiaan rakyat tidak boleh dijadikan dekorasi politik untuk meredam kritik terhadap kenyataan.

